Tampilkan postingan dengan label Sosial - Budaya - Psicologi - Article - Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial - Budaya - Psicologi - Article - Wacana. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Desember 2010

KEMACETAN DI JAKARTA, SOLUSINYA ?

Jakarta, pusat dari segala pemerintahan dan perekonomian Indonesia. Hampir semua kebijakan berasal dari ibu kota ini. Sampai akhir tahun 2010 ini, Jakarta mulai mengalami dilema yaitu masalah kemacetan lalu lintas. Pihak pemerintahan dan aparatur negara terus bekerja keras dan banyak melakukan pembenahan. Disatu sisi memang memberikan hasil dan dampak positifnya, tetapi di sisi lain terkendala oleh semakin bertambahnya penduduk Jakarta, perkembangan kesibukan kegiatan perekonomian dan pemerintahannya, juga jumlah kendaraan bermotornya yang semakin bertambah. Ini juga bisa terjadi pada kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Dalam masyarakat kita beredar berbagai wacana ataupun persepsi untuk memberikan pandangan bagaimana membantu Jakarta yang begitu kompleksnya dengan segala hambatan di segi kemacetan lalu lintasnya. Ada beberapa masyarakat Indonesia yang berwacana bahwasannya :

  • di Jakarta perlu di bentuk jalan-jalan alternative yang tidak perlu lebar dan satu arah
  • ada juga pendapat yang mengatakan Jakarta perlu membangun tempat parkir di luar pusat keramaian . dan yang boleh berlalulintas di jalan-jalan besar (jalan protokol /jalan-jalan utama) pusat kota hanya kendaraan angkutan umum, sepeda ontel, kendaraan aparatur pemerintahan dan keamanan, juga kendaraan social.
  • Ada yang berpendapat untuk membagi waktu jam masuk kerja kantor antar area tertentu (tersegmentasi) dengan cara beberapa area dimulai dengan jam kantor lebih awal, sedang area –area selanjutnya diberlakukan jam masuk kantor yang berbeda, begitu pula dengan waktu kepulangannya.
  • Ada yang berpendapat untuk mengoperasikan atau memberdayagunakan sungai-sungai di Jakarta digunakan sebagai sarana alat transportasi (dengan alat angkutnya) atau juga di bangun angkutan layang di pinggiran mengikuti alur sungai.
  • Bahkan ada yang berpendapat mendirikan lagi bangunan kantor pemerintahan di pinggiran kota, dan untuk bangunan kantor yang telah berdiri di pusat kota dijadikan kantor-kantor pemerintahan kedua (pembantu) agar kesibukan pemerintahan bisa merata.
  • Atau mungkin gabungan atau kombinasi dari beberapa pendapat diatas.

Di tengah semakin kompleksnya dan padatnya penduduk Jakarta, kita memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap pemerintahan dan aparatur DKI Jakarta yang selalu bekerja keras demi memperbaiki Jakarta menjadi kota lebih baik, damai, sejuk, berkembang dan maju. Semoga Jakarta menjadi ibu kota negara yang semakin baik.

By. Irawan.

Readmore »»

Sabtu, 08 Mei 2010

MENENTUKAN PILIHAN DALAM HIDUP

Baik itu perubahan atau keputusan penting yang menentukan langkah kita selanjutnya dan berdampak panjang pada kehidupan kita nantinya selalu melalui proses pilhan dari bererapa pilihan dan biasanya 2 pilihan dan kita harus memilihnya mau atau tidak. Kita hanya menggunakan 2 kata, kata “ya” dan “tidak”.

Tetapi sebelum kita menentukan pilihan-pilihan itu tadi kita dituntut untuk mempersiapkan diri kita untuk cerdas dan penuh logika. Cerdas dan penuh logika bukan berarti kita sombong dalam berpikiran dan terlalu percaya diri, cerdas dan penuh logika artinya segala pertimbangan yang kita ambil dan pilih harus berdasar pada keberadaan akan besarnya dan megahnya semua ciptaan Illahi, bagaimana dan mengapa semua yang ada di bumi ini, dan alam semesta ini terwujud, baik yang terlihat maupun yang tak terlihat karena terlalu kecil, terlalu besar dan jauh. Jika kecerdasan dan baiknya logika kita berdasarkan atas kebesaranNYA maka akan bergunalah semua kecerdasan dan logika yang kita miliki.

Jadi kesimpulannya semakin kita mengerti bahwasannya DIAlah yang berkehendak dan menentukan segalanya semakin kita yakin akan hasil pilihan hidup yang kita tentukan.

Kita sadari bahwa hidup manusia hanya sepanjang jalan, sepanjang umur manusia, hanya sepanjang 2th, 7th, 15th, 27th, 35th, 48th, 60th, 80th,atau 100th dan mungkin lebih sedikit,.. yaa.. hanya sepanjang itulah umur manusia, yang berarti budaya hidup, cara hidup, kenikmatan hidup manusia hanya sepanjang itu juga. Tetapi kehidupan setelah mati itulah yang abadi,

selamanya, tak terhitung waktu, tak terbatasi oleh apapun. Semua hal itulah yang mendasari pilihan kita untuk menumpuk kebaikan guna memiliki kebaikan di kehidupan yang kekal nanti. Bila kita hanya menumpuk segala hal yang kita anggap bisa menyenangkan kita di dunia/bumi ini dengan segala cara, maka berarti kita telah membuat pilihan yang salah, dan kita akan rugi dan menyesal sekali tanpa tiada cara lagi untuk memperbaikinya. Dan hal itu berarti kita telah salah karena tidak menggunakan kecerdasan dan logika kita dalam menentukan cara hidup.Kita telah diberi kesempatan untuk meraih kehidupan kekal yang kebahagiaan dan kenikmatannya kekal juga, dengan cara kita di wujudkan dan diberadakan di kehidupan bumi ini, dan selayaknya kesempatan baik ini kita gunakan sebaik-baiknya untuk mengisinya dengan ibadah dan kebaikan-kebaikan lainnya, sehingga kita akan berhak mendapatkan kehidupan kekal nantinya yang penuh kebahagiaan dan kenikmatan abadi tersebut. Kita harus ingat bahwa semua kemegahan permukaan bumi ini suatu saat akan sirna lenyap karena memang bumi semakin tua dan memang waktunya penentuan hari perhitungan dariNYA, untuk itu buatlah keputusan yuang bijak, benar, baik, cerdas dan berlogika dalam menentukan cara hidup kita demi kebaikan abadi kita, dengan kembali pada jalan yang DIA perintahkan, karena segala hal yang Illahi perintahkan semuanya demi kebaikan dan kebahagiaan kita juga, DIA teramat Maha Pemurah, Pengasih,dan Penyayang, dan DIA juga teramat Maha Pengampun. Semoga kita sempat berubah diri kita menjadi lebih baik dan belajar untuk selalu baik.

By. Irawan.

Readmore »»

Sabtu, 16 Januari 2010

ARTI KATA SEDERHANA – A Simple Word Meaning

Sederhana adalah suatu prinsip yang menjadi sikap dasar dalam berkepribadian/berkarakter juga dalam berpenampilan untuk sederhana dalam berbagai implementasinya di segala aspek kegiatan hidup. Dengan suatu pandangan bahwasannya penampilan yang sederhana belum tentu memiliki watak kepribadian yang sederhana pula, tetapi jika kepribadian yang telah berprinsip sederhana tentunya dengan sendirinya membawa diri untuk berpenampilan sederhana.
Sederhana dalam berbagai hal, contohnya dalam menuangkan kata-kata lisan, didalamnya berirama bagaimana bahasa kita yang kita ucapkan harus sesuai dengan objek lawan bicara kita, tidak selalu

memonopoli pembicaraan, tidak bersikap sok tau atau mengerti segala hal, jangan terlalu mendelegitimasi bahasa dan keadaan, tidak memaksakan argument bila itu bukan di suatu forum atau presenatasi yang memang menuntut argument kita berkapasitas dan benar. Sederhana dalam hal bersikap pada orang lain, dalam artian bahwasannya kita harus menghargai hak-hak orang lain, memandang sama derajat semua orang karena memang yang bisa membedakan derajat manusia hanya Sang Maha Pencipta saja atas dasar tingkatan imannya, suka untuk menolong sesama manusia tanpa membeda-bedakan ras, suku , agama ataupun golongan, bila kita bisa dan mampu dengan mengatakan sejujurnya keterbatasan kita, menjaga toleransi yang baik dengan keluarga, orang-orang di sekitar kita, teman-teman kita. Sederhana dalam budaya makan, artinya disini adalah kita harus pandai-pandai mengerti dan memahami arti kata kesehatan hubungannya dengan gizi dan kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh kita, jadi akan tercipta suatu pola budaya makan yang tidak berlebihan ataupun kurang, karena kita telah mengenal segala bentuk zat-zat penting dan zat-zat yang berguna dan tidak berguna (berdampak negative) pada segala apa yang dibutuhkan tubuh kita.
Sederhana dalam hal berpakaian/berpenampilan. Sekali lagi pikiran pandai harus kita gunakan, sederhana dalam hal ini adalah bagaimana kita berpenampilan yang baik, bersih, sesuai dengan keadaan, dan sesuai dengan nilai kepatutan atau kepantasan yang dilihat dari sudut pandang orang lain. Bahan dasar penampilan yang mahal tidak tentu indah dan menarik, image keindahan dan kemenarikan itu akan tercipta dengan sendirinya jika pembungkus penampilan kita sesuai dengan tingkah laku dan bahasa yang baik yang kita ciptakan. Kita akan bicara sederhana dalam hal berambisi, ambisi adalah sahabat untuk mencapai prestasi hidup, dan prestasi tersebut akan benar-benar tercapai dan benar-benar berprestasi (memberikan nilai kepuasan lahir dan bathin) bilamana dicapai dengan cara yang jujur, baik, benar dan halal. Dan ini tidak mudah karena yang bisa mencapai sampai dengan yang demikian itu adlah orang-orang yang gigih, ulet, dan terus mau untuk belajar memperbaiki kekampuan berpikirnya, pengalamannya, dan kepribadiannya.
Sederhana dalam mengkonsumsi sesuatu, dalam konteks ini termuat bagaimana cara bergaya hidup penuh keseimbangan dalam hal accountabilitas baik dalam hubungannya dengan mencukupi kebutuhan hidup dan budaya bersaving untuk keperluan di waktu yang akan datang, tentunya kita harus mengerti dan menyadari pentingnya mengkonsumsi sesuatu dengan tidak berlebihan dalam artian lebih dari sisi kegunaannya ataupun harganya, dengan asumsi bahwa dengan harga yang wajar saja bisa diperoleh suatu jenis barang atapun jasa yang sama fungsinya dan bentuknya. Bila kita merasa mempunyai budget yang lebih, alangkah baiknya bila ditabung atau lebih baik lagi sebagian diamalkan ke saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Sebenarnya masih banyak penjabaran tentang bagaimana sesungguhnya arti dari sederhana itu, tetapi pada dasarnya sederhana berbasic pada pola pikir dan pola kegiatan yang selalu bernuansa pada asas pemikiran jangka panjang, daya guna, nilai guna dan resiko-resiko sesuatu hal, dan dengan bersikap cerdas untuk sederhana akan memberikan kita banyak nilai-nilai pembelajaran dan kegunaan positif yang akan kita rasakan dalam waktu cepat atau lambat., dan akan membuat hidup kita lebih sehat baik lahir maupun bathin.
Semoga wacana diatas bisa membuat kita berubah untuk hidup lebih baik dan sehat.
By Irawan http://kreatifkerja.blogspot.com

Readmore »»

Selasa, 13 Oktober 2009

FENOMENA TENTANG PENAMPILAN ADALAH SEGALANYA

Komunikasi membutuhkan tingkat kepercayaan diri.
Komunikasi untuk mensosialisasikan diri tiap personal kepada personal atau pada beberapa personal memerlukan tahapan kepercayaan diri dan kemauan yang cukup untuk mengatualisasikannya. Tingkat kemauan dan kepercayaan diri sangatlah dipengaruhi oleh seberapa besar seseorang itu ingin mencapai cita-citanya atau seberapa besar seseorang itu ingin diakui keberadaannya. Jadi semua ini tetap berhubungan dengan lingkungan kehidupannya, cita-cita dan pekerjaan dari tiap individu itu, dan hal ini bisa berubah-rubah sesuai dengan tingkatan/level kehidupan atau prestasi yang ingin atau telah meraeka raih.


Performa identitas diri dengan penampilan.
Untuk ke arah sana atau menuju pencapaian ambisi cita-cita atau tujuan hidup yang lain , seseorang memerlukan performa agar diakui oleh lingkungan dan orang lain. Performa yang notabene identik dengan penampilan bisa terjadi perubahannya saat memulai suatu tujuan hidup, atau terjadi dalam masa telah mencapai tujuan hidup ataupun terjadi saat gagal dari tujuan hidupnya, dan yang terakhir perubahan tersebut terjadi terus semakin lebih dan lebih saat tujuan hidup itu semakin baik dan semakin berprestasi menuju tingkatan yang lebih tinggi.
Perubahan performa tiap individu yang biasanya dilakukan pertama kali adalah merubah penampilan dari individu tersebut. Kepercayaan diri yang telah dimiliki , entah itu dalam kadar kepercayaan diri yang kurang, cukup, atau bahkan lebih, tidaklah belum mencukupi untuk beraktualisasi diri dalam kehidupan sosialnya bila tidak ditunjang oleh perubahan penampilan. Karena memang budaya masyarakat kita sebagian besar menilai seseorang pertama kali dilihat dari penampilannya, entah itu dilihat dari pakaiannya, alat-alat telekomunikasi yang mendukungnya ataupun sarana mobilitas yang dikendarainya. Bahkan seorang individu yang telah kental berprinsip bahwa penampilan bukan segala-galanya kadang-kadang dengan terpaksa harus mengikuti budaya masyarakat kita agar mereka mempercayai siapa dirinya, meskipun orang-orang yang seperti tersebut sebenarnya tidak membutuhkan pengakuan yang berlebihan karena yang mereka ingin buktikan adalah kapasitas dan hasil sumber daya yang mereka miliki. Tapi demikianlah yang terjadi, arus pengakuan bahwa penampilan bisa merubah image pertama kali saat bertemu dengan orang lain terpaksa harus mereka pergunakan.
Pribadi yang terbuka adalah penampilan kita karena memang secara gampang kita bisa menerka siapa dan bagaimana orang yang memakai aksesoris yang melekat pada diri mereka, dan pribadi yang tertutup adalah kata-kata, tingkah laku dan kerja juga hobi seseorang, karena kita tidak akan bisa secara gampang menebak benar pribadi seseorang dengan mendengarkan kata-kata mereka, tingkah laku, pekerjaan ataupun hobi mereka.
Mengapa image penampilan diperlukan dan dinomersatukan di masyarakat kita. Pertanyaan seperti ini bisa dijawab oleh semua orang, pertama adalah agar orang percaya kepada kita, kedua adalah agar kita lebih mudah mendapatkan pengakuan dari orang lain, ketiga adalah agar tingkat kepercayaan diri kita bertambah dan keempat adalah sarana untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita. Jadi jelas bahwa maksud dan tujuan dengan merubah penampilan, dengan harapan kita bisa lebih mudah atau dengan kata lain kita tidak perlu bersusah payah menjelaskan siapa diri kita agar maksud ataupun tujuan kita tercapai pada saat pertama kali kita bertemu dengan orang lain atau orang yang kita tuju. Suatu missal, seorang arsitek yamg sedang menawarkan hasil karyanya pada orang yang dituju, jika si arsitek tersebut bepenampilan ala kadarnya, meskipun karya yang diperlihatkannnya sangatlah bagus dan imajinatif, tapi bakalan bersusah payah dia menjelaskan bahwa dirinya adalah orang yang berpotensi atau capable di bidangnya, karena orang yang ditujunya untuk membeli hasil karyanya bakalan akan ada banyak pertanyaan di benak orang tersebut, beberapa pertanyaan yang mungkin ada di benak orang tersebut adalah, benarkah ini hasil karyanya? Apakah dia punya hubungan yang memadai untuk mewujudkan apa yang dikerjakannya? Dan apakah ini pekerjaan pertama kalinya yang merupakan bahan percobaan buat dia? Nah pertanyaan seperti ini ( dari akibat penilaian penampilan dengan segala perniknya) kemungkinan besar terjadi pada kondisi kerja dan tawar-menawar pada masyarakat kita.
Pada bidang atau segi-segi kehidupan yang bagaimanakah kita tidak dituntut mengutamakan penampilan.
Penampilan tidak akan begitu dibutuhkan atau diperlukan pada segi kehidupan di lingkungan seniman, karena mereka sebagian besar tidak menilai seseorang terutama sesama senimannya dari sisi penampilannya , mereka hanya mengakui orang-orang tersebut dari hasil karyanya. Kita tidak bisa membandingkan masyarakat kita dengan masyarakat luar negeri. Mereka dalam kehidupan social mereka, sebagian besar lebih tidak memandang bagaimana mereka berpenampilan, mereka hanya melihat dari sisi kegunaan orang lain, dan apa yang bisa mereka lakukan untuk orang-orang lain itu. Jelas disini terlihat bahwa sumber daya manusia adalah yang terpenting dan terakui dari setiap individu. Kita tidak bisa membandingkan masyarakat kita dengan mereka, karena tingkat belajar dan pemikiran sebagian masyarakat kita yang masih membutuhkan waktu dan pembelajaran untuk bisa mengerti seperti mereka. Dari sisi arus informasi dan teknologi yang semakin mudah kita dapatkan dan semakin berkembang di jaman sekarang, memungkinkan masyarakat kita akan lebih cepat untuk belajar untuk menumbuhkan sumber daya tiap individu kita agar berguna bagi diri sendiri dan masyarakat banyak.
By. Irawan.

Readmore »»

KATA-KATA ADALAH SISI PRIBADI YANG TERTUTUP - Words are Closed Side Personality.

Pribadi atau ciri khas karakter seseorang menentukan dan berpengaruh pada konsekunsi lanjutan timbal balik sikap dan penilaian orang lain terhadap seseorang tersebut, begitu pula sebaliknya. Salah satu faktor seseorang bisa meraih tujuan hidupnya adalah karena karakteristik kepemilikan pribadi tertentu yang bisa diandalkan baik secara tidak langsung ataupun langsung menjadi modal penentu untuk meraih kesuksesan tersebut.
Bila kita lihat paradigma yang terjadi di lingkungan kehidupan sosial saat ini bahwasannya banyak masyarakat yang beranggapan bahwa watak-karakteristik kepribadian seseorang bisa diubah seiring perjalanan waktu.

Dan sekali lagi kata-kata “waktu” masih terpakai untuk menilai hasil dari spekulasi perubahan kepribadian tersebut. Sedangkan waktu (time) itu sendiri sifatnya tidak menentu (uncertainly). Ketergantungan pengharapan perubahan karakter pribadi seseorang dengan menjalani waktu bisa berakibat tidak tercapainya tujuan yang dimaksud, tetapi bisa juga berakibat baik dengan tercapainya tujuan tersebut. Logika dari pengharapan perubahan karakter kepribadian seseorang melalui berjalannya waktu sangatlah banyak-banyak membutuhkan kesabaran, pengorbanan dan pengarahan, jadi hanya tipe-tipe orang yang sabar saja yang menyandarkan perubahan kepribadian padaseseorang yang diperdulikannya dengan berjalannya waktu, dan kebanyakan seringkali tidak sesuai dengan yang di harapakan, sehingga banyaklah ditemui penyesalan (useless) karena telah menyia-nyiakan waktu yang semestinya digunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat.
Salah satu cara untuk melihat atau menilai pribadi seseorang meski tidak secara utuh, tetapi minimal kita bisa menilai dari kesan pertama melihat atau berkenalan dengan orang lain dan mengerti atau bisa membaca pribadi yang terdapatkan untuk pertama kalinya. Kita bisa melihat orang tersebut dari apa–apa yang dia kenakkan, dari kendaraan yang dia pakai atau dari alat komunikasi yang dia gunakan. Tentunya sekali lagi penilaian karakteristik kepribadian melalui beberapa hal yang tersebut diatas tidaklah sangat signifikan atau benar 100%, karena kita lebih percaya pada logika bahwa pribadi yang baik adalah pribadi yang bisa membuat orang lain bahagia, tenang atau welcome saat bersama dan berbicara dengan seseorang tersebut dan pribadi yang baimk adalah pribadi yang pandai menyesuaikan diri, tidak berlebih-lebihan dalam segala hal yang dia gunakan dan ucapkan juga perpenampilan apa adanya tanpa mengurangi nuansa pribadi yang baik tersebut. Penilaianpribadi berdasarkan atas apa yang dia gunakan setidaknya memberikan gambaran singkat kepribadian dari kesan pertama. Sebai missal bila seseorang mengenakan baju yang tidak sesuai dengan kondisi tempat yang ada, bisa jadi kita menilai seseorang tersebut mempunyai karakter yang unfashionable, kurang mengerti pergaulan yang lebih formal, atau juga mungkin tipe orang yang low profile, atau mungkin malah seseorang tersebut seorang pengusaha sukses yang tingkat kepercayaan dirinya sangat tinggi. Dan bila kita dapati seseorang yang mengenakan pakaian yang tidak cocok warna dan modelnya, kita mungkin bisa beranggapana bahwa seseorang tersebut berkepribadian sangat kaku, egois, eksentrik, terlalu bebas, atau bisa juga kembali pada rasa percaya diri yang besar. Dan bila kita dapati seseorang yang berkendaraan mewah maka selintas kita akan berpikir bahwa orang tersebut adalah seorang yang mapan, sukses, mandiri dan sebaliknya bila sesorang tersebut berkendara yang biasa-biasa saja. Dan begitulah seterusanya penilaian kepribadian berdasarkan apa-apa yang dikenakkan atau digunakan. Hal ini membantu setidaknya memberikan motivasi objek percakapan atau kepentingan pada orang yang melihat mereka untuk berkenalan lebih jauh atau tidak.
Tetapi justru kesalahan penilaian kepribadian sering terjadi saat berlangsungnya komunikasi/percakapan setelah penilaian berdasarkan apa-apa yang dia gunakan atau pakai tersebut. Karena sesungghnya style, kualitas, ekspresi gaya bahasa yang dikeluarkan dalam suatu percakapan sangat dipengaruhi oleh wawasan, mood, motivasi, dan sumber daya orang tersebut, jadi bisa saja seseorang yang berkepribadian baik tetapi karena saat itu dia lagi bad mood maka percakapannya terkesan membosankan atau gak nyambung malahan bisa menyakitkan, dan juga bisa seseorang dengan kepribadian tertutup, tetapi karena dia saat itu dalam suasana yang membahagiakan maka percakapannya terkesan nyambung atau enak untuk ditanggapi, diterjemahkan terjadilah kontak sosialisasi yang lebih dekat. Untuk seseorang yang berwawasan luas mereka lebih pandai menyembunyikan atau mempermainkan model kepribadian mereka, karena mereka lebih banyak mengerti tentang banyak hal dan bisa memilih-milih untuk memberikan kesan kepribadian yang bagaimana kepada objek lawan bicaranya. Untuk seseorang yang mempunyai motivasi tertentu atau tujuan tertentu, mereka akan berusaha keras untuk menampilkan percakapan yang mengarah pada tujuan individunya, sehingga mereka akan membatasi hal-hal percakapan yang dapat memberikan kesan ketidakpercayaan pada kepribadian mereka. Jadi sebagai individu dan mahluk sosial biasa, sebenarnya kita lebih sulit mengerti, memahami, knowing more deeply tentang personality seseorang melalui percakapan yang kita lakukan. Seseorang yang berkarakter A saat berbicara ia akan terlihat sebagai sosok yang berkarakter C karena beberapa faktor keadaan yang tlah ia alami atau memang karena ia menginginkannya seperti itu, dan begitu seterusnya. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai dan berhati-hati untuk menyikapi, memahaminya dengan perbendaharaan wawasan kita dan menggunakan berbagai trik percakapan untuk mengarahkan lawan bicara kita agar terlihat bagaimana karakter sesungguhnya yang dimilikinya. Atau mungkin lebih bijaknya bila kita ragu tentang kepribadian lawan bicara kita yang baru kita kenal, lebih baik silent is gold dan atau menyudahi percakapan tersebut agar tidak memperburuk suasana percakapan. Lain halnya bila kita berprofesi sebagai wartawan yang mencari berita atau informasi, apapun suasana percakapan tersebut, seorang wartawan harus terus memberikan komentar dan sering bertanya untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan. Karena profesi tersebut lebih banyak mengesampingkan aspek kepribadian dari narasumbernya. Jadi yang kita pelajari disini adalah bahwasannya penilaian kepribadian seseorang lebih sulit dinilai atau dilihat dari kekampuan dia berbicara atau dari nilai/hasil/kualitas pembicaraannya. Dan ada kemungkinan penilaian karakter lebih mudah dilihat dari apa-apa yang digunakan atau dipakai si objek yang dinilai kepribadiannya, dengan asumsi hasil penilaian kepribadian dengan cara tersebut sifatnya sementara (kesan pertama menimbulkan arti).
(By. Irawan).

Readmore »»